Selasa, 14 Februari 2012

puisi ku

Di Persebahan akhir Tempat Tugasku

Pagi begtu cerah
Tergelitik dengan bunyi-bunyi music
Dan kicauan burung-burung
Aku tersentak dari lamunanku
Menjejerkan bendera perjuangan
Mendekam bahtera langkah
Yang kian hari menyusut
Di sudut-sudut waktu
Kini lambaian tangan
Mulai bersiap
Terangkat menderukan puisi hati
Yang sudah sekian lama menyatu
Di persebahan tempat perjuangan ini
Benarkah ini akan berakhir
Dengan tetesan air mata
 yang akan mengundang seribu kerinduan
Mampukah semua ini ternahkodai
Dengan kata selamat untuk mengakhiri semuanya?
Sungguh ini sangat berat
Namun ini adalah kenyataan yang harus di terima

                                                                                                                                Karya : pejuang 2010/2011 of p2k 

RAHASIA API, SALJU, DAN DIRIKU
Karya : Abdul Azis Sukarno

Rahasia
api ada dalam panasnya
Rahasia salju ada dalam dinginnya
Rahasia diriku ada dalam
cinta

Panas, dingin, dan cinta tak bisa diurai dengan apapun
Kecuali dengan merasakannya

Dekatilah api, jika kau ingin terbakar hangus
Dekatilah salju, jika kau ingin menggigil beku
Dekatilah diriku, jika kau ingin bahagia selalu

Terbakar, menggigil, dan bahagia, bukan penyebab siapapun
Melainkan kitalah yang memilihnya
Kitalah yang menciptakannya
Kitalah yang membuat mereka benar-benar ada

Rahasia api, salju, dan diriku adalah rahasia hidup
Yang mesti engkau singkap
Dengan binar
mata hati seorang penyingkap
untuk menemukan seberapa tebalkah
tabir misteri yang meliputinya












AKU INGIN PULANG


Dulu……
‘Kalau saja…….mungkin sekarang……’
‘Seandainya……barangkali saat ini…..’
‘Seharusnya ……jadi kita sudah……’

Aku mengetuk
jendela kamarku
Meruntuhkan salju yang menggunung
Memberikan panorama yang bersih, putih
Memberikan keamanan jiwa ragaku……
Betapa bedanya dengan persebahanku yang penuh warna

Aku merindukan hijaunya permadani sawahku
Aku merindukan bau amis pantaiku
Aku merindukan sejuknya
pegununganku
Aku merindukan suara-suara pedagang pasarku
Aku sungguh merindukan desaku……

‘You miss something, Dady?’ aku diam saja
‘You will go home, Dady!’ akupun diam saja
Gadis kecil pirang ini memberikan tissue,
untuk menghapus deras air mataku,
karena aku tidak punya jawaban………

aku memasuki gedung megah bertingkat puluhan,
menuju loket dan mengeluarkan tanda diriku,
‘Are you desa?’ sepercik senyum usia menyapaku
Aku tertegun sejenak…… (mengangguk dalam hati?
‘No!’ suaraku menikam jantungku…..

Kalau saja dulu….